Putus Sekolah Karena Persoalan Ekonomi dan Bully, Lima Anak Terpaksa Mengenyam Pendidikan Di PKBM

by -35 Views

PILARRADIO.COM.Mentok- Sebanyak 5 orang anak usia sekolah dari rentan umur 12-15 tahun di Tanjung Pakdan ,Teluk Rubiah kelurahan Tanjung kabupaten Bangka Barat terpaksa harus melanjutkan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cahaya

Mereka putus sekolah di pendidikan formal dilarenakan kondisi ekonomi keluarga dan faktor kasus bully yang menerpa mereka

Peserta didik hanya belajar selama 2 jam setiap hari. di teras rumah salah seorang warga RT 04 RW 05 Tanjung Pakdandengan diasuh oleh dua relawan sekaligus guru

Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman bersama Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bangka Barat, Teni Wahyuni,berkunjung ke PKBM tersebut, Jumat (12/6/2026) sore.

Kedua pejabat pemkab Bangka Barat tersebut berbincang dengan pengelola TKBM, Ketua RT setempat , Relawan serta.anak.disidik PKBM Cahaya.

Dari perbincangan tersebut diketahui faktor penyebab anak putus sekolah dikarenakan kondisi ekonomi keluarga dan kasus bully yang menimpa siswa didik di pendidikan formal masih terjadi.

Hal tersebut diakui Orang tua peserta didik PKBM Cahaya Maryani, warga Tanjung Pakdan, memiliki 7 orqng anak kondisi ekonomi menyebabkan tiga orang anaknya terpaksa harus mengenyam.pendidikan di PKBM Cahaya

Baca Juga :  Yus Derahman : Babel Turbo Championship Wadah serta Ajang bagi Pencinta Balap Motor dan Gairahkan Ekonomi Bangka Barat.

“Bayangkan ada tujuh anak, jadi hitunglah biayanya kalau mau disekolahin semua. Belum untuk makan sehari-hari nya. Saya itu setiap hari masak sampai 3 kilogram nasi untuk makan, mana saya kerjanya cuma ngelimbang,” ungkap Maryani

Ia memaparkan “Dua anak usia sekolah yang berusia 13 dan 15 tahun dan satu anak berusia 18 tahun disekolahkan di sana. Sementara itu, juga masih punya 2 orang anak lain yang saat ini bersekolah di salah satu SD terdekat,”ungkap Maryani

Selain itu menurut Maryqni , keputusan untuk menyuruh anaknya berhenti sekolah tersebut karena anak-anaknya minder dan malu karena sering diejek dan di olok-olok oleh temannya.

“Dulu anak anak sempat sekolah di pendidikan formal,tapi karena kondisi ekonomi keluarga menyebabkan dirinya dan suami yang hanya bekerja serabutan, tidak mampu membiayai lagi keperluan sekolah anaknya.

Enggak enak juga kita kalau anak kita seragamnya enggak sama, sepatunya enggak sama, bolong-bolong dan diejek temennya. Jadi karena anak saya bilang enggak mau sekolah lagi, yaudah saya tidak bisa lagi menolak anak memutuskan berhenti sekolah,” ujarnya.

Diakuinya, dengan tiga orang anak yang belajar di PKBM, Maryani pun mengaku bisa lebih leluasa mencari nafkah untuk keluarga.

Baca Juga :  Kabel Genset Rutan Mentok Digasak Maling.

“Kalau di sekolah biasa juga mau beli seragam itu kadang bisa habis sampai berapa juta. Jadi mending di sini lah (PKBM-red),” keluhnya.

Sementara itu, Salawati (53), Pengelola PKBM Cahya juga berharap anak-anak usia sekolah tersebut dapat kembali menerima pendidikan di sekolah biasa.

“Saya pribadi pengennya anak-anak ini, ada 5 orang yang masih usia sekolah bisa kembali ke sekolah biasa,” ungkapnya.

Pasalnya kata dia, PKBM dan sekolah biasa tentu memiliki perbedaan, terutama dari sisi pengajaran ilmu yang diberikan kepada anak-anak.

Namun kata dia, banyak kendala yang dihadapi, baik berkenaan dengan umur anak-anak yang sudah melewati usia jenjang sekolah tertentu sehingga harus mengikuti paket A atau B maupun soal perizinan PKBM yang sampai kini belum ada.

“Apalagi diketahui bahwa PKBM yang baru didirikan pada awal tahun 2026 dan menempati rumah orangtuanya tersebut belum memiliki akta notaris dan perizinan lainnya sehingga belum bisa dijadikan yayasan yang secara resmi mengelola PKBM,”katanya

Leave a Reply